Pamit (tak) berTuan

Waktu seakan menjawab
Seonggok harapan puan yang hilang bersamanya
Dulu, puan merasa seperti diserbu beribu-ribu kebahagiaan yang terukir manis
Sang tuan tak berhenti menopang harapan puan kuat-kuat seolah ialah sang senja dikala sore hari
Semesta yang turut menjadi saksi, seorang perempuan yang direndam oleh pengharapan manis dari seorang laki-laki
Sekarang, bak dihantam ombak yang sedang mencapai puncak amarahnya, sang tuan pergi
Meninggalkan puan dengan kalimat sendu
Seolah, puan tak mengerti apa yang dirasa sang tuan
di lorong harapan puan permisi untuk tidak membayangkan tuan kembali
Bahkan, menginginkannya untuk sekadar menyapa untuk mengisi hari
Puan, puan, puan, biarkan ia pamit dan biarkan dirimu untuk tak bertuan

Komentar

Postingan Populer