Catatan Lirih, dari Tubuh yang Luruh
Menjadi manusia dewasa
Tuhan, aku tidak pernah tahu, apalagi membayangkan,
bahwa menjadi seorang yang beranjak dewasa akan sesulit ini
Sebelumnya dalam benakku, dewasa adalah menjadi
manusia yang dilegalkan dengan sebuah kartu, berumur 17 tahun, dan tubuhku
berkembang secara biologis
Tuhan, jika menjadi dewasa terasa begitu rumit, seperti ini, bolehkah aku sejenak memutar waktu
Mengulang masa remajaku, yang hanya mengenal bagaimana
belajar di bangku sekolah
Ku pikir, hidupku akan terus seperti itu, berjalan beriringan dengan waktu, dan aku hanya berganti posisi duduk, yang semula sebagai seorang
pelajar, akan berganti, menjadi seorang pekerja.
Ternyata tidak ya Tuhan, menjadi dewasa itu seperti ini
ya, melihat wajah orang tuaku yang semakin hari semakin mengisut dan lesu
Tatapannya seolah berbisik, anakku, lihat kami ini, sudah tua
ya, gadis kecilku saat ini sudah dewasa, bagaimana hidupmu, bahagia kan?
Tuhan, aku sungguh mencintai mereka. Sangat. Tapi aku
juga yang membuat mereka kecewa, aku tidak ingin menjadi dewasa, Tuhan
Aku pun menyadari, menjadi dewasa,
berarti tanggung jawabku tidak hanya tentang mengenyam pendidikan, tidak hanya
tentang membahagiakan diri sendiri, lebih dari itu, aku harus memikirkan
kelanjutan hidup tubuhku, dan keluargaku
Tuhan, andaikan semua bisa aku genggam, andaikan semua
bisa aku kendalikan, bahagianya aku menjadi seorang remaja perempuan yang
beranjak dewasa
Di sela sela hidupku kini, Kau titipkan aku rasa
gagal, di waktu yang tidak pernah aku bayangkan.
Tuhan, kau titipkan kepadaku, rasa sesal yang dalam, di
saat hidupku sedang kurajut, dengan mimpi paling tinggi yang pernah ada dalam
bayangku
Kau titipkan pula padaku rasa yang belum pernah aku bayangkan,
apalagi rasakan.
Tuhan. rasa apa lagi yang ingin kau titipkan nantinya?
Tuhan, apakah menjadi dewasa juga tidak boleh berkeluh
kesah?
Kalau boleh, apa yang saat ini aku lakukan berarti
bolehkan Tuhan?
Aku tidak sedang berbuat dosa kan Tuhan?
Kalau berdosa, catatan ini akan ku biarkan saja
melayang, dengan anganku yang sudah tanggal.
Hanya akan menjadi catatan lirih, pada tubuh yang luruh
dengan waktu.
Tuhan, saat ini, apa lagi yang ingin kau berikan
kepadaku?
Kejutan apa yang akan kau selipkan dalam hidupku?
Aku mencintai-Mu.
Komentar
Posting Komentar