Konstruksi
Halo, perkenalkan nama saya Alika. Pasar bukanlah tempat yang asing lagi bagi saya. Sebagai anak penjual lauk-pauk,
pasar menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi. Bau anyir, bau amis, bau
keringat mas-mas dan ibu-ibu atau apapun itu bau-bauan yang melayang-layang di
indra penciuman saya sudah bukan menjadi masalah lagi bagi saya. Kehidupannya yang
ramai tak bertuan pun sudah akrab dalam penglihatan saya. Iya, saya bisa melihat
mereka, yang tidak bisa kalian lihat. Hari ini, saya ingin memperhatikan mereka
lebih lama, saya penasaran tentang bagaimana mereka, mumpung hari ini ibu
sedang tidak berjualan, jadi saya punya waktu yang cukup banyak untuk
berleha-leha. Saya duduk di bale-bale di sudut lorong paling ujung di pasar ini, dimana tempat remah-remah
sayuran yang buruk dibuang. Saya lihat seorang ibu sedang sibuk memungutinya, saya
bertanya kepadanya, untuk apa dia mengambilnya, dia menengok lirih ke arah saya,
untuk makan, katanya. Bergetar hati saya melihatnya, lain waktu akan saya bawakan beberapa bungkus nasi dari warung ibu untuk diberikan kepadanya, iya, lain
waktu. Saya terus perhatikan ibu itu berjalan menelusuri lorong tempat saya bernaung
hingga tidak sadar, sesosok perempuan dengan rambut panjang yang menjuntai
sampai ke mata kaki ternyata sudah berada di dekat saya. Bukan, dia tidak sama
dengan ibu yang tadi, dia bukan manusia. Dia menegur saya halus, sampai berdiri
bulu kuduk saya. Sapaannya begitu bersahabat, sayangnya kami tidak dapat
bersentuhan, meskipun dia menjulurkan tangannya yang penuh darah itu, iya, dia
bilang dia mati karena bunuh diri.
Senyumnya begitu lembut, saya
rasa, saya harus bertanya mengapa dia sampai bunuh diri. Tiba-tiba matanya
melirik tajam ke arah saya, saya terkejut, bagaimana tidak, coba bayangkan. Perlahan
air matanya mulai runtuh dari mata hitamnya, tidak ingin dijodohkan katanya. Sial,
saya jadi teringat Kang Zaenal yang ibu ingin jodohkan dengan saya, tapi kalau
itu saya mau, dia tampan dan mapan, sedang apa ya dia sekarang... ah sudahlah. Perempuan itu
melanjutkan ceritanya, katanya, ia putus asa, sudah berulang kali menjelaskan
kepada orang tuanya kalau dia tidak ingin dijodohkan, tapi hanya cuitan tajam
yang diterimanya. Alasannya dijodohkan cukup aneh, katanya karena dia paling feminin
diantara saudara perempuannya yang lain. Dia tidak mau dijodohkan dengan Mas
Manto, kuli panggul di pasar ini yang mengaku juragan ayam ke kedua orang
tuanya. Sudah berulang kali dia menjelaskan kepada orang tuanya kalau Mas Manto
bukanlah orang yang baik, tapi usahanya sia-sia. Meskipun Mas Manto tampan, dia
tidak suka, karena Mas Manto bukanlah orang yang jujur. Hemm… mendengar nama
Manto, aku jadi teringat kakek-kakek yang meninggal di sebelah rumahku kemarin
sore, yang bernama sama, Manto.
Dia juga bercerita, tentang
Nirwana, gadis kecil yang mati tertabrak motor saat menjadi kuli panggul di
pasar ini. Nirwana, gadis kecil yang bukan seperti gadis, katanya. Dia bilang Nirwana
berbeda dengannya, dia anak kecil perempuan yang macho. Tubuhnya kekar berotot,
rambutnya pendek sekali, dan gaya bicaranya mirip seperti anak laki-laki. Tak
lama kami membicarakan tentang Nirwana, ada sesosok anak yang ikut duduk
bersama dengan kami, dan ternyata itu Nirwana. Tunggu-tunggu menurut saya, dia
kurang macho, lihat saja gaya duduknya masih rapat begitu. Perempuan itu terus
bercerita tentang kehidupannya dulu, ketika dia masih hidup. Ah….. lama-lama
saya jadi mengantuk juga. Tunggu-tunggu ada apa itu ramai-ramai, ternyata ada
penjual petai yang menjual murah petainya. Saya harus beli, ibu pasti suka.
Tapi bagaimana menghentikan perempuan ini bercerita, baiklah, mungkin saya harus
berteriak. “Mas Mantoooo…”. Dia dan Nirwana pun menghilang. Saya pun berjalan menuju tukang petai itu. Aroma petainya nikmat sekali menusuk hidung saya,
membuat perut saya jadi keroncongan. Dari belakang saya lihat tukang petai itu
kewalahan melayani ibu-ibu yang sibuk memilih petai dan dengan kompaknya menunduk. Saya dekati
mereka, hingga sampai saya di hadapan si penjual petai dan ibu-ibu berisik ini, sial,
mereka bukan manusia ternyata.
Komentar
Posting Komentar