Perah, Perih, Paruh Hati
Senjakala, kala aku tak mengenal
rasa
Simpuh dan santunku, semesta
mencintaiku
Nada, noda, dan nadi bias dengan
waktu
Napas malamku semakin redup
tertelungkup
Tuhan, kumohon peluk diriku erat
erat
Aku kehilangan denyut mimpiku
Kuingin, semesta kembali
mencumbuku, detik ini juga
Namun, aku tahu diri, siapa aku
saat ini
Diriku terlalu ramai, untuk jiwa
yang begitu sepi
Semesta mungkin tahu, bahwa
goresan itu begitu dalam
Bahkan, aku sendiri yang mengukir
goresan itu
Senjakala, kala aku tak mengenal
rasa
Izinkan aku, untuk belajar
mencintai nyawaku
Nyawa yang bisa saja lenyap,
dimakan sendu, sewaktu waktu.
Komentar
Posting Komentar