Siapa
Dia, seakan melerai aku dan hidupku
Menghabiskan oksigen yang harusnya kuhirup dalam-dalam untuk menopang tubuh ini
Dia, sekan menebas dinding yang kubangun rapih dari munculnya fajar hingga pamitnya senja
Meluruhkan sedikit demi sedikit pengharapan yang nyata menjadi tak nyata, atau mungkin sebaliknya
Dia, yang selalu menjalar dalam lamunanku
Menyita habis ruang-ruang kosong yang kusisakan untuk berpikir tidak hanya tentang cinta
Dia, adalah ketidakmungkinan yang selalu mungkin untukku
Dia, seperti jalanan panjang yang bertuan, dimiliki tapi seperti tidak dimiliki
Benar, dia pengisi daya khayalanku yang sering dibuat tak karuan
Mengapa benar? Bahkan batinku berontak akan kebenaran itu
Menolak, bahwa aku ingin hidup dalam kehendakku
Maka, aku sesungguhnya yang menjadi dalangnya, membiarkannya berkeliaran tanpa permisi.
Tapi, siapa dia?
Menghabiskan oksigen yang harusnya kuhirup dalam-dalam untuk menopang tubuh ini
Dia, sekan menebas dinding yang kubangun rapih dari munculnya fajar hingga pamitnya senja
Meluruhkan sedikit demi sedikit pengharapan yang nyata menjadi tak nyata, atau mungkin sebaliknya
Dia, yang selalu menjalar dalam lamunanku
Menyita habis ruang-ruang kosong yang kusisakan untuk berpikir tidak hanya tentang cinta
Dia, adalah ketidakmungkinan yang selalu mungkin untukku
Dia, seperti jalanan panjang yang bertuan, dimiliki tapi seperti tidak dimiliki
Benar, dia pengisi daya khayalanku yang sering dibuat tak karuan
Mengapa benar? Bahkan batinku berontak akan kebenaran itu
Menolak, bahwa aku ingin hidup dalam kehendakku
Maka, aku sesungguhnya yang menjadi dalangnya, membiarkannya berkeliaran tanpa permisi.
Tapi, siapa dia?
Komentar
Posting Komentar