Candika

“Namaku Candika. Orang-orang pikir, aku bahagia, memiliki hidup yang sempurna, dikelilingi orang-orang yang saling mencinta. Segala apa yang kuinginkan mereka anggap mudah kudapatkan. Itu salah, namun tidak sepenuhnya mereka salah karena mereka melihatku dengan mata, bukan dengan hati mereka. Kuberi tahu engkau yang sebenarnya, hanya kepada engkau, manusia yang sedang membaca kisahku, aku ingin engkau tahu aku hanyalah gadis yang hidup dalam naskah yang dirangkai oleh orang lain, yang setiap hari penuh dengan revisi untuk mencari kata yang sempurna bagi mereka, tapi tidak bagi diriku sendiri. Setiap harinya tubuhku harus mengikuti naskah yang telah dirangkai dan disusun rapi sedemikian rupa menuruti kehendak mereka, dalang-dalang dalam hidupku. Membelenggu ruangku, sampai aku lupa bahwa manusia pada hakikatnya bernyawa.
    Andaikata memang benar ada kata “pilihan” di dunia ini, mungkin ada kamus khusus untuk diriku yang tidak memuat kata itu dalamnya. Sedari kecil, tidak pernah aku merasakan memilih apa yang aku inginkan, mereka selalu menanamkan dinding yang kokoh untuk tidak membiarkan aku hidup dalam pilihanku sendiri, membuatku terkungkung tak berdaya. Selalu ada batas yang menyita bahkan memotong harapanku serta mimpiku. Makannya jangan pernah kau tanyakan padaku, apa cita-citaku, sudah luntur bayangan itu dari dulu. Bahkan beranjak remaja, ketika aku mulai mengenal dunia yang orang bilang itu indah, yang mereka sebut dengan “cinta”, aku justru dibuatnya makin tidak berdaya. Batas semakin merajai hidupku ini, ruangku semakin diperkecil, bahkan sampai-sampai aku dibuatnya tak memiliki teman bermain, apalagi teman laki-laki. Dia, orang yang katanya mencintaiku, membalutku dengan rantainya, yang begitu kuat, berat rasanya aku membebaskan tubuhku dari cengkramannya. Aku benci dengan perasaan “cinta”.
    Kamu tahu, di tanganku kini sudah kugenggam sebuah pisau, yang setiap harinya kuasah, hingga begitu terlihat tajam. Setiap malam, benda ini kugenggam, ku tuliskan nama-nama yang membuat tanganku gatal untuk menancapkan pisau ini di kepala mereka. Aku ingin menancapkan pisau ini di kepala mereka, sebab, kepala mereka selalu memproduksi ide-ide naskah apa yang harus kuperbuat setiap harinya. Aku ingin mereka mati. Hari ini tepat di hari ulang tahunku, ku undang mereka, untuk datang ke pestaku. Tidak, hanya satu orang yang kuundang, iya, dia laki-laki itu, yang memberiku rasa cinta yang terasa busuk. Serta dua orang yang tinggal bersamaku yang kubenci sedari kecil, paman dan bibiku yang kuanggap diri mereka  seperti orang tuaku. Manusia-manusia yang tidak tahu diri, manusia-manusia yang tidak punya hati, aku dibuatnya tak karuan menghadapi dunia ini, aku ingin mereka mati, mati di tanganku, gadis yang mereka balut dengan belenggu yang mengikat batinku.
    Malam ini, mereka tampil rapih, kupuji mereka satu persatu, ku tuangkan segelas sirup jeruk yang kuberi racun di dalamnya. Diteguknya sirup itu, mereka bilang sirup buatanku enak sekali. Bodoh ! mereka suka dengan racun yang kuberikan, tapi baguslah, mereka terus menuangkan sirup itu ke gelasnya, aku suka. Lama kelamaan, satu persatu dari mereka terkapar. Setelah mereka lemah tak berdaya, ku keluarkan pisau tajam yang ku asah setiap harinya itu dari dalam lemari kecil di dapur dan.... kini pisau itu telah kutancapkan di kepala mereka satu persatu. Sungguh aku bahagia melihat darah yang mengalir terus menerus dari kepala mereka. Terciprat ke dinding, ke meja makan, bahkan ke ayam goreng yang menjadi saksi bisu kebahagiaanku malam itu.
    Kuseret satu persatu tubuh busuk itu, aroma tubuh mereka membuatku mual, aku tidak suka. Kubenamkan tubuh mereka ke sumur tua di halaman belakang rumahku yang sudah penuh dengan lumut. Sial, aku tidak suka bau karat yang terhembus begitu pekat terbawa angin malam yang sangat dingin. Ketiga tubuh orang bodoh itu kini telah terendam di sumur busuk itu. Sebentar... aku lapar, tidak mungkin aku makan ayam yang terciprati darah busuk orang-orang bodoh itu. Untungnya pohon jambu yang jaraknya tak jauh dari sumur ini menyajikan begitu banyak buahnya yang bisa ku makan, ku ambil jambu itu seperlunya karena tak tahan dengan bau karat yang semakin tidak karuan ini.
    Kuberitahu engkau, setiap harinya aku menari di atas meja makan merayakan kebebasanku, terlepas dari naskah-naskah yang terus membelenggu. Dari atas meja ini seperti kulihat bekas-bekas jejak manusia-manusia bodoh itu. Sebentar... mengapa kulihat mereka, mengapa mereka ada lagi, mengapa mereka hidup lagi, dan mengapa terus mondar mandir di ruangan ini..tunggu-tunggu siapa mereka. Bibi... mau apa dia... mengapa dia memasak, paman... mengapa dia mengelap sepatu sekolahku, dia, laki-laki itu mengapa dia bebicara dengan pamanku, mau apa mereka kembali...mengapa mereka kembali. Ku turunkan kakiku melangkahkan kaki menuju sumur tua itu, tidak mungkin mereka bisa keluar dari sana, tidak mungkin... sebentar aku baru ingat ada tulisan ku di sumur ini, tapi mengapa belum hilang ya... tulisan yang ku goreskan dengan pisau itu waktu aku berumur 15 tahun, iya, dulu aku menuliskan sesuatu di mulut sumur ini.. bahwa aku ingin mati disini, betapa bodohnya aku, ingin bunuh diri karena mereka, manusia-manusia yang tidak punya hati. Tapi tunggu aku harus memastikan keberadaan mereka di dalam sumur itu agar mereka tidak kembali lagi, aku harus masuk.....”
    
    Ah gila! Kenapa aku harus membaca tulisan yang diketik di buku tua yang kutemukan tergeletak di meja makan malam-malam gini sih.... bikin merinding saja, tapi daripada aku iseng tidak melakukan apapun, ya sudahlah lebih baik menunggu mama papaku di ruang makan saja. Tapi... mengapa nama tokoh di cerita itu sama dengan nama pemilik rumah ini dahulu ya hem... kebetulan saja mungkin. Iya, orang tuaku membeli rumah ini dari ibu-ibu berbadan gempal berambut keriting, kalau tidak salah namanya Ibu Nuri. Rumah ini sudah dibeli sebulan yang lalu, namun kami baru pindah sore ini karena ayahku memang sedang dipindah tugaskan dari kantornya ke daerah sini, dan baru masuk kerja tiga hari lagi. Orang tuaku sedang sibuk merapikan barang-barang. Tadi di perjalanan menuju rumah ini, mamaku bercerita kepadaku kalau Ibu Nuri bercerita kalau dulunya anak pemilik rumah ini bernama Candika, tapi sudah lama mereka sekeluarga hilang entah kemana, rumah ini tidak terurus semenjak kepergian mereka, makannya rumah ini dijual dengan  harga murah. Aneh memang, hilang tapi tidak ketemu-ketemu, padahal katanya Candika itu anak yang sangat penurut. Rumah baruku ini bangunannya unik, tadi ketika aku berkeliling rumah ini kulihat di bagian belakang rumah memiliki sumur yang sudah terlihat tua, usang sekali... selain itu pula ada pagar yang sudah berkarat, bau karatnya tak tertahankan, bau sekali, selain itu pula kulihat ada pohon jambunya juga.. tunggu-tunggu kenapa sama ya dengan penggambaran rumah yang ada di cerita itu, ah biarlah, kebetulan saja mungkin. Aduh... tapi aku lapar sekali... mungkin nanti aku akan coba ke belakang rumah, mengambil beberapa jambu untukku dan orang tuaku. Ngomong-ngomong... meja makan ini keren juga ya coraknya, cipratan cat berwarna merah yang ada di sudut-sudutnya menambah keunikan meja kayu ini, tapi sayangnya, sudah sedikit amblas di bagian tengah, entahlah... rumah baruku ini benar-benar unik. 

Komentar

Postingan Populer