Cempaka Putri
Perkenalkan, namaku Cempaka Putri. Umurku sepuluh
tahun, sepertinya. Aku tinggal sendirian di rumah tua yang cukup besar ini. Sebenarnya ada satu orang yang sering menemaniku, dia adalah Bik Narsih, tapi dia hanya datang sesekali, hanya pagi
hari saja, sore hari dia kembali pulang ke rumahnya. Tapi aku tidak benar-benar
sendiri, aku punya dua teman yang setia menemaniku setiap hari, namanya Nuri
dan Melati. Mereka tidak sama sepertiku, Nuri adalah nama dari seekor burung
peliharaan kakek, semenjak kakek pergi entah kemana, burung itu merasa
kesepian, begitupun dengan melati bunga kesukaan nenek, yang hampir mati layu
karena tidak pernah dirawat oleh nenek. Sama dengan kakek, nenek pergi entah
kemana, begitu lama meninggalkan rumah, dan aku yang sendiri berdiam di rumah
tua ini. Nuri cukup berisik dia sering bersuara keras ketika ku hampiri, entah
mengapa, dan melati, dia sangat akrab denganku, aku suka wanginya yang begitu
memikat indra penciumanku.
Aku sedih, tidak ada satu orang pun yang ingin bermain
denganku. Aku sering menghampiri anak-anak kecil yang seumuran denganku, yang sedang
bermain-main di taman komplek rumahku, tapi mereka tidak menghiraukan keberadaanku. Pernah
ada satu anak laki-laki yang aku hampiri, tapi ketika melihatku, dia malah
berteriak dan pergi menjauhi ku. Ya, aku tahu, dia mungkin tidak ingin bermain
denganku, karena kakiku yang pincang ini. Dulu aku sempat mengalami kecelakaan yang cukup hebat bersama dengan kakek dan nenekku. Kakek dan nenekku mengalami luka di bagian kepala, sedangkan aku di bagian kaki. Kami sempat dirawat di
rumah sakit. Hari demi hari kami dirawat di rumah sakit, akhirnya kami diperkenankan untuk pulang, namun entah mengapa kakek dan nenekku tak lama setelah itu, mereka
menghilang, mereka pergi dari rumahku, dan aku ditinggal sendirian.
Aku merasa kesepian, seringkali aku hanya duduk di
bagian belakang halaman rumahku, bersama si Nuri yang berisik itu. Biarlah,
yang penting hidupku tak terlalu sunyi. Sesekali aku mencabut bunga melati yang
mulai rapuh. Hanya itulah sumber kebahagiaanku. Sebenarnya yang mengganjal
bagiku adalah, Bik Narsih, dia selalu menangis melihatku, entah mengapa, bila
ku tanya, dia malah pergi sambil menangis tersedu-sedu, seperti aku bila sedang
merengek meminta permen ke kakek dan nenek. Entah mengapa aku juga merasa wajah
Bik Narsih seperti orang yang sudah tua, seperti wajah nenek, padahal dia masih
gadis, aneh. Hingga suatu hari, aku memberanikan diriku untuk duduk di taman
komplek, mencari suasana baru. Lama kelamaan, aku merasa nyaman, aku suka.
Meskipun tidak ada satu orang pun yang ingin menemaniku, yang penting aku bisa
menyaksikan kebahagiaan dan canda tawa mereka, anak-anak komplekku yang
mayoritas adalah laki-laki.
Namun, suatu sore, tiba-tiba ada seorang kakek yang
terus memperhatikanku, setiap aku menyadari keberadaannya dan melihat ke
arahnya, dia terseyum kepadaku, huh.. sungguh menakutkan. Kejadian itupun
berulang setiap harinya, hingga suatu saat dia menghampiriku, aku benar-benar
takut. Dia duduk di sebelahku, menyapaku dan memanggil namaku. Cempaka Putri,
dia hapal betul nama lengkapku, dia tau nama kakekku, dia tau nama nenekku, dia
tau letak barang-barang di rumahku, benar-benar kakek tua ini membuatku begitu
takut. Aku penasaran, kalau dia tau semuanya, mungkin saja dia tau dimana
kakek dan nenekku berada saat ini. Dia tersenyum padaku, dia ingin bercerita kepadaku,
namun dengan syarat aku tidak boleh memotong pembicaraannya, dan aku setuju. Begini
katanya....
“Sebenarnya, ketika kalian kembali dari rumah sakit,
aku sedih melihat kakimu yang pincang begitu, akupun sedih tidak bisa bermain lagi di taman bersamamu, kamu adalah temanku satu-satunya yang kumiliki saat itu,
saat umur kita sepuluh tahun. Suatu hari aku mendengar kisah ini dari almarhumah ibuku
katanya, kamu memaksakan diri untuk naik ke lantai atas, ke kamar kakek dan
nenekmu, namun, belum sempat menginjakkan kakimu ke lantai atas, kamu terjatuh dari
tangga, kepalamu terbentur keras, kamu dilarikan ke rumah sakit. Hingga terdengar kabar buruk mengenai dirimu sampai ke telinga kakek dan nenekmu. Setelah mendengar kabar itu, mereka terkena serangan jantung bersama dan
meninggal dunia, sehari setelah hari kematianmu, Cempaka.”
-Cindy Kusumawardhani (2018)
Udah bagus kak, sering-sering update blog nya ya kak!
BalasHapusOke terima kasih, kalau ada saran mau nulis apa komen aja ya..
Hapus