Semen(a)men(a)




Pagi pergi, siang datang..
Siang pergi, sore datang..
Sore pergi, malam datang..
Seperti itu....
Saya tidak mau..
Bukan tidak mau dengan nuansa itu..
Tapi saya tidak mau seperti nuansa itu..
Kadang, terbersit di kepala saya tentang panah dan busur.
Panah akan melejit secepat mungkin untuk meninggalkan busur.
Busur diam, tapi geraknya tidak,  busur mendorong panah untuk pergi?
Entah, bagaimana busur memaksa untuk ditinggalkan?
Kenapa pula panah begitu saja menerimanya?
Omong kosong!
Saya benci keduanya.
Tapi itu kata saya.
Bukan katamu.
Sekarang saya tanya, kamu mau jadi yang mana panah  atau busur?
Sudah jawab?
Cepat jawab!
Sudah?
Saya mohon tolong jawab sekarang dalam hatimu.
Sudah?
Oke, kalau sudah.
Atau belum?
Baiklah
Kalau kamu menjawabnya. Kamu membiarkan saya menjadi busur yang mau saja kamu turuti.
Dan membiarkan kamu untuk jadi panah yang bodoh.
Kalau belum.
Kamu membiarkan saya menjadi anak panah yang mau saja menurutimu.
Dan membiarkan dirimu menjadi busur yang semena-mena.
Saya bilang apa!
Omong kosong. Tidak ada yang bisa dipercaya.
Mau ngomong sama siapa kalau sudah begitu?
Sama saya?
Hohoho saya mau tidur, ngantuk, tidak mau mengurusi urusan orang-orang sepertimu, dan seperti saya.
Malam.

                                                                                                                                                                                --Ce-Ka--

Komentar

Postingan Populer