Biru Langit (Bagian 1)
Denting jam bersuara dengan ramainya. Memecah suasana sore ini yang mendung dan begitu dingin. Menunggunya adalah hal yang menyenangkan. Meskipun aku harus berlama-lama menyerahkan tubuhku pada bilik di samping sekolah. Duduk termenung dan menatap pepohonan yang bergoyang dengan ramah. Terbawa semilir angin, yang turut menyapu dedaunan kering yang tergeletak lemas. Rasanya dingin sekali. Tapi, aku tidak keberatan, menyita waktu untuk menunggu kedatangannya agar kami bisa pulang bersama. Setidaknya semua itu terbayar ketika nanti, kulihat senyumnya, yang menenangkan. “Biru!”. Ah, suaranya menghentak lamunanku dan membuat jantungku berdetak lebih kecang. Iya, dia sudah datang. Membawa sekantong es teh manis di tangan kanan dan sekotak batagor di tangan kirinya.
“ari kamu teh udah lama yah nunggu?”
Rasanya ingin sekali aku menjawab pertanyaan itu dengan lembut,
tapi rasanya canggung haha.
“udah, borokokok, lama pisan maneh teh nya, yeuh, udah cangkeul urang teh, nyaho!”
“hahaha, hampura atuh eceu, nih batagor, kasukaan maneh, sok mam heula, duduk, lamun hoyong es teh manisnya dua, tell me yes!”
Aku dan dirinya memang seringkali berkomunikasi menggunakan Bahasa Sunda, karena memang orang tua kami merupakan Orang Sunda yang merantau ke Jakarta. Langit, namanya Langit, lengkapnya, Langit Sulangit. Pertemanan kami dimulai saat kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Ibunya dan ibuku adalah teman lama, yah, semacam sahabat sejati yang tidak terpisahkan lah. Kami sering sekali pergi bersama, ke mall, taman bermain, sampai menemani ibu kami arisan dan reunian. Bahkan, sekolahku dan Langit pun selalu sama, mulai dari SD, SMP, dan sampai saat ini kami bersekolah di SMA yang sama. Tidak pernah terpisahkan bukan? Jujur saja, aku pernah bosan melihat wajahnya. Bahkan, karena seringnya kami bertemu, aku paham betul pertumbuhan kumis, janggut, dan tahi lalat di wajahnya. Iya, manusia satu ini memang unik, beberapa tahi lalat tiba-tiba bisa muncul di wajahnya. Kalau ditanya, jawabnya pasti “aduh, mana gue tau atuh Bir, lalatnya naksir gue mereun, jadi demen hinggap terus”. Heuh.. dasar borokokok, logikanya, kalau memang lalat menyukainya, sudah pasti mukanya tidak dijadikan jamban. Bahkan, dengan percaya diri dia berkata, ada lalat menyukainya. Hmmm.. padahal, jelas-jelas ada manusia yang benar-benar menyukainya, dan pastinya tidak akan mungkin menjadikan wajahnya menjadi jamban. Ya, manusia itu adalah, aku.
Rasa itu muncul seiring dengan berjalannya waktu. Berawal dari kekagumanku akan kecerdasannya dalam beberapa mata pelajaran. Dia tidak sungkan mengajariku, bahkan, sudah seperti guru les privat. Biasanya, di akhir pekan terkadang ia main ke rumahku, atau sebaliknya, aku yang berkunjung ke rumahnya hanya untuk belajar bersama dan menumpang makan. Ah, masakan ibunya sangatlah lezat. Apalagi sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan pete rebus. Aku suka gaya bicaranya, lembut dan menenangkan. Suaranya juga khas dan mudah dikenali. Tadinya, aku pikir ini hanya cinta monyet biasa. Tetapi sepertinya bukan. Semakin hari malah semakin kagum dan semakin meluap-luap hingga rasa itu berubah menjadi rasa... ingin menjadi kekasihnya. Entah, aku tidak tahu, disebut apa rasa ini, yang jelas, aku menyukainya. Hah, tapi si borokokok itu jangan sampai tahu. Bisa malu aku. Selain itu, alasan klasik nan kuno lainnya adalah, aku tidak ingin ia menjauh dariku. Menahan perasaan untuk tidak diungkapkan, hanya demi menjaga hubungan kami tetap harmonis itu menyakitkan. Coba, bayangkan saja, bertemu dengannya hampir setiap hari membuatku hampir mati menahan gejolak rasa ini. Mengobrol, bertukar cerita, bercanda, hemm.. pusing kalau dijabarkan satu persatu hal-hal yang kami lewati bersama. Aku pun cukup minder dengan perempuan-perempuan lain yang juga menyukainya. Banyak siswi yang kece badai tertarik padanya. Hemm… dia memang cukup menjadi buruan dan idola gadis-gadis cantik di sekolah.
“Bir, Sabtu ntar, kayaknya mah gue gakjadi main ka imah si Asep kaliyah..”
Ah, lagi-lagi
suaranya mengaburkan lamunanku.
“eh, kenapa atuh maneh mah ih, sebentar aja atuh, udah lama kan ga ngumpul-ngumpul kitu, ada si Susi sama si Omay juga ih, udah jauh-jauh dari Bandung mau ketemu kita, kunaon sih?”
“Ambu, ngajak ka Majelis Ta’lim Bir, teu bisa sendirian, Ambu lagi sakit,
tapi maksa mau datang, jadi musti dibaturan, abah teu bisa, aya tugas ngajar
ceunah”
“oh kitu...”
“He’euh, eh! bukannya maneh juga musti ka imah Nenek maneh lain Bir”
“Hah, ngapain, kok maneh nu apal?”
“Natal kali ini kan ceuk mamah maneh ngarayakeunna di imah Nenek maneh,
kunaon lupa ih aneh.”
“eleuh-eleuh, enya nya... poho hahaha khilaf, aduh kumahanya, kasih tau Susi sama Omay atuh, biar engga usah kesini dulu”
Iya, memang ingatan Langit begitu kuat, berbeda denganku, haha, masih kecil sudah pikun. Emm, Langit dan aku memang berbeda. Perbedaan yang aku dan Langit miliki memang bisa membuat kami saling melengkapi satu sama lainnya. Namun, aku harus menyadari, ada perbedaan sekaligus benteng terbesar untuk kami. Meskipun nantinya, Langit memiliki perasaan yang sama denganku, akankah aku bisa menjadi pendamping hidupnya kelak? Ah, tidak tahu lah, yang jelas, aku harus mengajaknya pulang. Hari sudah semakin sore. Aku harus menemani ibu, membeli beberapa hiasan pohon natal untuk kami bawa ke rumah nenek Sabtu nanti. Aku menyukaimu Langit. Ah kampret, kapan sih bisa move on dari kamu.
Komentar
Posting Komentar