Empat Titik Air Mata

Aku
Aku yang selalu terjerat, dalam pikiranku yang paling dalam
Aku juga yang selalu ingin menghakimi diri sendiri, tanpa ingin aku mengingat siapa aku
Aku yang selalu berusaha untuk bangkit, tapi bahkan diriku sendiri tidak dapat menopang pikiranku
Aku yang sulit berucap, karena keramaian terlalu bising
Aku yang tenggelam dalam keheningan dunia
Aku yang selalu begini
Selalu ingin sendiri
Dari dulu sendiri
Hingga aku sadar, aku memang sendiri
Namun, dunia pernah terasa begitu bersahabat, dan menepis rasa kesendirianku
Tapi tak lama, rindu untuk sendiri terus… terus… dan terus menghampiri
Hingga sampai pada saatnya, aku benar benar merasa sendiri
Menjauhkan diri dari yang lain
Tidak ingin ada kebisingan
Tidak ingin ada campur tangan jiwa yang lain, yang mencoba masuk dalam kehidupanku
Karena aku sadar, sendiri lebih baik
Ketimbang ramai, tapi aku merasa sendiri
Pernah di suatu masa, aku merasa dunia begitu mesra
Memperkenalkanku dengan secercah jiwa, yang perlahan mulai masuk ke dalam raga
Melekat, hingga hampir merasa punya dua nyawa
Tapi nyatanya, dunia juga yang menunjukkan bahwa rasa itu nyatanya hanya sebuah fatamorgana
Dunia juga pernah terasa begitu sendu, sampai mengundang begitu banyak raga yang menyapaku
Mereka menyapa dan berkata, aku harus bangkit
Itu tak lebih hanya seperti angin, yang hanya lewat sementara, lalu lenyap seketika
Lucunya, setelah itu mereka hilang, tanpa sadar, aku kembali sendiri
Jangan kira aku diam, tatkala banyak yang membicarakanku tapi tidak mendukungku
Hanya menjadikanku objek lemah, yang seolah butuh dikasihani
Aku sendiri dengan ragaku, napas dengan hidung, keluar dari mulut, setiap hari
Air keluar dari mata, setiap hari
Aku tidak pernah minta untuk dicintai
Aku tidak pernah minta ingin dibelas kasihi
Tidak perlu kunjungan, tidak perlu kekhawatiran
Aku hanya manusia yang punya hati, punya pikiran, sama, seperti mereka
Bedanya, aku sendiri, mereka beramai ramai, mereka melupakanku
Kebiasaan, datang seperlunya, hilang sesukanya
Apa mereka pernah tahu, bagaimana rasanya sakit dan terjatuh
Berendam dalam amarah dan ambisi yang tidak tersalurkan
Tidak
Aku tidak butuh mereka
Aku hancur berkeping keping, sampai kepingan paling akhir
Hampir tubuhku bercerai berai, tidak ada yang tahu
Tidak ada yang perduli
Setelah aku berbicara, meronta dalam nestapa, baru mereka menyadari
Siapa aku?
Siapa mereka?
Datang seperlunya
Pulang sesukanya
Kalau butuh datang, kalau tidak?
Lelucon macam apa ini
Aku kecewa
Apakah aku punya teman?
Apakah duniaku begitu indah?
Tidak…
Aku sendiri, tidak, tidak ada yang peduli, bahkan mati bukan solusi
Aku benci
Malam ini, empat titik air mata jatuh tepat mengenai selembar kertas di hadapanku

Komentar

Postingan Populer