(Fira)sat
“Tidak,
aku tidak akan pergi darimu, bahkan untuk mengangkat tanganku dari genggaman
ini aku pun tak sanggup”. Mendengar ucapan dari salah satu tokoh yang diucapkan oleh seorang laki-laki di
sinetron itu membuatku langsung mematikan TV yang menemaniku seharian mendekam
di dalam kamar ini. Kalimat yang diucapkan oleh tokoh di sinetron percintaan
itu sedikit mengganggu lambungku, memuakkan, mual sekali mendengarnya. Seperti
racun yang baru saja kutelan, aku ingat betul bagaimana mulut si brengsek itu
membual manis di hadapanku, tangannya yang kasar itu membelai halus pipi
lembutku yang baru saja ku oleskan masker bengkoang sebelum bertemu dengannya,
seraya mengucapkan kalimat busuk yang sama persis dengan apa yang baru saja ku
dengar dari sinetron itu, menjijikan.
Aku
bahkan membenci setiap orang yang memiliki nama Dion. Celakanya, banyak sekali
temanku yang memiliki nama itu, entah di awal, di tengah, atau menjadi nama
akhir mereka. Bahkan dengan mendengar nama itu saja sudah mengoyak-ngoyakkan
ingatanku akan si brengsek itu, aku sangat membencinya. Kebencianku ini bukan
karena alasan yang tidak jelas, 4 tahun kami bersama, begitu mudahnya
dia meninggalkanku, tanpa pesan, tanpa pemberitahuan, atau apapun itu jenisnya. Dia
hapus jejaknya dari hadapanku, sebulan sebelum hari pernikahan kami, tepatnya, semenjak
kejadian itu, kecelakaan yang hampir merenggut penglihatanku. Baiklah, mungkin
harus kuceritakan selengkap-lengkapnya kejadian yang sesungguhnya antara aku
dan dia.
Jujur, dia adalah laki-laki yang paling
tidak romantis dalam sejarah percintaanku. Entah mengapa, rasanya sedetikpun
bayangan wajahnya tidak bisa hilang dari otakku ini. Dulu aku ingat sekali, dia
sering mengajakku pergi ke taman, bahkan untuk sekadar bercerita mengenai
kepenatan kami di tempat kerja masing-masing. Membicarakan hal remeh-temeh yang
bisa membuat kami tiba-tiba tertawa. Membeli jajanan-jajanan dari orang-orang
yang hilir mudik berjualan di sekitar taman menjadi teman setia dalam setiap
pertemuan kami. Aku akui, dia adalah lelaki sederhana yang luar biasa, tidak
pernah sama sekali menggombal, tapi nasehat dan kalimat-kalimat bijak yang
selalu dia beli di Toko Buku Grimidi dia ceritakan ulang kepadaku. Kejahilannya
yang sering dia lakukan kepadaku, adalah
hal yang paling kurindukan, tak kupungkiri, aku benar-benar merindukannya,
sekaligus membencinya.
Tepat sebulan sebelum hari pernikahan
kami, kami pergi mengunjungi sepupuku yang saat itu sedang mengadakan pesta
pernikahan, kami pergi menggunakan motor kesayangannya yang diberi nama Bobi.
Nama itu aku yang berikan, tepat di hari jadian kami. Tetapi hari
itu adalah hari terakhir aku dan dia bertemu. Motor yang kami tumpangi
mengalami kecelakaan, saat perjalan pulang setelah mendatangi pesta pernikahan sepupuku. Aku merasakan benturan yang begitu hebat mendarat dikepalaku, samar-samar
kulihat Dion mencoba menghampiriku dengan darah yang mengucur dari dahinya. Hampir
dua bulan aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan aroma ruangan yang
sedikit menganggu, aku tidak suka bau rumah sakit.
Dokter memberitahu, bahwa efek dari kecelakaan
itu cukup fatal bagi penglihatanku, tapi untung saja dapat segera dipulihkan, sehingga aku dapat melihat kembali. Dokter tidak memberitahuku, secara jelas mengenai
pemulihan mataku ini, tapi yasudahlah aku bersyukur karena aku masih dapat melihat.
Seminggu dari kepulanganku dari Rumah Sakit kutanyakan ke semua orang dimana
keberadaan Dion, semua orang-orang yang mengenal Dion aku hubungi melalui
telepon rumah, karena telepon genggamku entah hilang kemana.Tidak ada jawaban
pasti yang kudapatkan dari mereka, bahkan mereka malah bertanya kembali dimana
keberadaan Dion kepadaku, aneh. Bahkan ketika aku mencoba meminta izin ke ibuku
untuk pergi ke rumah Dion, ibu melarangnya dengan alasan, lebih baik aku tidak
usah pergi kesana, karena kondisiku yang masih belum pulih betul.
Ini tidak bisa dibiarkan, sudah habis
kesabaranku, lelaki brengsek itu harus menjelaskan kepadaku kemana dia selama
ini, meninggalkanku dalam kondisi yang benar-benar lemah dan sangat
membutuhkannya, sekaligus menjelaskan, bagaimana kejelasan hubungan kami. Aku
pergi ke rumah Dion, sembunyi-sembunyi, melewati pintu belakang rumahku. Sial,
untuk pergi ke rumahnya saja aku harus membuka gerbang pintu belakang rumahku
yang berkarat ini, sumpah, aku benar-benar membencinya.
Sesampainya aku di depan rumahnya, entah
mengapa nyaliku sedikit menciut. Belum mengetuk pintunya saja, aku sudah membayangkan bagaimana ketika aku masuk kulihat dia sedang
bersama perempuan lain, saling merangkul, berpelukan, atau bahkan berciuman, bisa gila aku dimakan api cemburu. Tapi, biarkanlah, meskipun
pemandangan itu yang nantinya kulihat, setidaknya itu dapat memperkuat alasanku
untuk melupakan dan membuangnya dari pikiranku jauh-jauh. Kuketuk pintunya,
beberapa kali tidak ada jawaban, hingga akhirnya, Mas Damar, kakak, sekaligus
saudara satu-satunya Dion yang membukakan pintu untukku, dan mengizinkanku
masuk ke rumahnya. Tapi tunggu, mengapa tak kulihat pemandangan seperti
biasanya aku memasuki rumah Dion, tak ada bunga segar yang berderet di meja
panjang di ruang tamunya, begitupun lantunan musik klasik yang biasanya
dinyalakan, rumah ini benar-benar sepi.
“Mencari Dion ya?”, tiba-tiba suara Mas
Damar mengejutkan lamunanku, ku anggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.
Tapi tunggu, mengapa mata Mas Damar berkaca-kaca, aku deg-degan. Dibawanya aku
menuju kamar Dion, sebelum kami sampai ke kamar Dion, aku bertemu dengan
ibunya, dipeluknya erat-erat tubuhku, dikecupnya keningku berulang-ulang kali,
wajahku basah karena air matanya yang mengalir deras dipipinya yang kini mendarat juga di wajahku, sungguh aku benar-benar
bingung. Mas Damar pun memeluk dan mencoba menenangkan ibunya, dibawanya aku dan
ibunya ke kamar Dion.
Sesampainya aku di kamar Dion, Mas Damar memberikanku sepucuk surat yang lumayan lapuk, seperti kertas basah yang
kemudian kering. Tulisan Dion, laki-laki yang ingin kutemui tapi tidak kulihat
batang hidungnya. Tanpa basa-basi, Mas Damar berbicara padaku, bahwa surat itu,
dapat menjelaskan dimana keberadaan Dion saat ini. Kuambil surat itu dari
tangan Mas Damar, dan begini surat itu berbicara....
“Untuk kekasihku, Shafira Rengganis Wijaya, calon istriku yang sangat
kusayangi, kutuliskan surat ini dengan penuh pengharapan agar ketika membaca
surat ini, luluhlah hatimu, tidak membenciku yang begitu saja hilang dari
hidupmu. Begitu bahagianya aku bisa menjadi laki-laki mu, mendengar segala
keluh kesahmu, memandangi garis-garis wajahmu yang membentuk senyummu, ah...
banyak sekali yang membuatku bahagia dapat memilikimu, maaf kalau selama ini
aku tidak pernah menjadi laki-laki yang romantis untukmu, bahkan untuk memberimu
sekuntum bungapun aku tahan, karena aku ingin memberikan perlakuan romantisku
padamu ketika nanti, setelah akad nikah kita nanti, benar, setelah engkau
menjadi istriku. Fira, maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu,
membiarkanmu mengalami kecelakaan yang merenggut penglihatanmu, membiarkan
darah keluar dari kepalamu, maafkan aku Fira, aku benar-benar menyesal. Saat
kau memintaku untuk menemanimu pergi ke acara pesta pernikahan sepupumu,
jantungku sedang tidak baik, aku lupa membeli obat, tetapi aku tidak ingin
engkau pergi sendirian tanpa ada yang menemani, dan aku memuutuskan untuk
menemanimu. Saat perjalanan pulang, kepalaku benar-benar sakit, dan aku tidak
menyadari bus dengan kencangnya menyalip dan begitu dekat dengan motorku, belum
sempat menghindar, motorku dihantam bus itu. Kita terjatuh Fir, kau terpental lumayan jauh dari tempat dimana kita terjatuh, kepalamu
mengeluarkan banyak darah Fir, aku ingin mencoba menolongmu, tapi entah mengapa
tubuhku begitu lemas. Banyak orang yang berlarian menolong kita. Sesampainya di
rumah sakit, yang kuingat kau dan aku segera di bawa ke UGD, kondisiku tidak
seburuk dirimu, aku hanya mendapatkan perawatan yang biasa pada lukaku, tapi
tidak pada jantungku, aku merasa jantungku benar-benar kehilangan kekuatannya,
aku sudah tidak kuat. Kudengar kabar dari Dokter bahwa, matamu harus
kehilangan kemampuannya untuk melihat, baiklah aku rasa, dengan cara ini kusampaikan
salam perpisahan denganmu Fir, kudonorkan kornea mataku agar kau tetap dapat
melihat indahnya dunia, dan belajar mengenai hidup dari matamu. Melalui surat
ini, kusampaikan bahwa aku sangat mencintaimu, bahkan berpikir untuk untuk
menggoda perempuan lain saja aku benar-benar tidak ingin, satu pesanku, jangan
kau salahkan orang-orang disekitarmu yang merahasiakan keberadaanku sebelum kau
baca suratku ini, karena aku yang memintanya, sayangku, Fira”
Seperti
dihujamkan beribu-ribu jarum dan melesat ke tubuhku, aku benar-benar tak kuasa
menahan emosiku, aku benar-benar merasa bersalah sekaligus menyesal, aku sangat
mencintaimu Dion, bagaimana bisa aku berpikir bahwa kau meninggalkanku, kau
bahkan bukan laki-laki brengsek. Kulipat surat ini, aku tak sanggup berada
disekitar keluarga Dion, yang menangis tersedu-sedu tatkala melihatku menangis
saat membaca surat dari Dion, aku berlari dari kamar Dion, terdengar suara Mas
Damar dan ibunya memanggil-manggilku, tapi aku tidak bisa berlama-lama disana,
aku ingin segera pulang kerumah, menghujat habis-habisan diri ini karena telah
tega berpikir bahwa Dion adalah laki-laki yang tidak baik.
Aku berlari begitu kencang, bahkan seperti melayang, namun tanpa kusadari, tiba-tiba
motor yang melaju begitu kencangnya menabrak tubuhku dan aaaaaaa..... aku terjatuh, sumpah, sakit sekali, nyeri. Ku buka mataku perlahan dan.... tunggu-tunggu, aku terjatuh dari
tempat tidurku. Apa-apaan ini, sungguhkah aku hanya bermimpi? benarkah semua itu hanya mimpi? Astaga, ternyata aku hanya bermimpi, sungguh aku hanya
bermimpi, syukurlah. Peristiwa-peristiwa itu semuanya mimpi, sungguh aku
benar-benar lega sekali, ah sungguh, aku benar-benarrrrrrr lega. Kuhabiskan segelas air putih di meja belajarku, bahkan kutuang air berkali-kali ke gelasku, rasanya haus sekali, mengalami mimpi seburuk itu. Setelah itu, aku langsung
mengecek telepon genggamku, ada ucapan selamat pagi dari “Sayangku” nama kontak
yang kuberikan untuk Dion. Tunggu-tunggu, tanggal berapa ini, astaga, hari ini
sepupuku menikah, dan sekarang sudah siang, aku kesiangan, aku harus segera siap-siap,
aku akan menceritakan mimpiku ini kepada Dion, sambil memintanya untuk
menemaniku pergi ke pesta itu.
Komentar
Posting Komentar