Kemangi Raya



Pagi ini langit kembali menyaksikan wajah kusutku, kusut, setiap hari kusut. Bagaimana tidak, setiap hari harus berhadapan dengan tumpukkan kertas-kertas yang tinggal duduk diam di atas meja kantorku, minta dilayani. Aku lelah sekali, bosan dengan keadaan, begini terus dan berulang setiap harinya. Aku butuh suasana baru. Oh iya, perkenalkan namaku Kemuning Larasati. Orang-orang biasa memanggilku Kuning, mau marah, tapi yasudahlah. Hari ini mungkin aku akan pergi ke taman itu, iya kemarin aku lihat ada taman indah di jalan Kemangi Raya. Ada danau nya juga, airnya hijau sekali, bersih tidak ada sampah, mungkin aku akan sering kesana melepas rasa bersalahku terhadap tubuhku sendiri, yang dibiarkan bekerja dan jarang istirahatnya.

Bangku taman ini cukup nyaman, meski bau karat. Huhh.. taman ini indah sekali, banyak bunga-bunga yang baru bermekaran. Kalau sudah begini, aku jadi ingin punya teman yang setia, bisa menemaniku, mendengarkan segala ceritaku, termasuk keluh kesahku. Aku punya beberapa teman tapi kebanyakan dari mereka hanya datang saat ada maunya saja, tidak tahu malu. Mumpung tidak ada orang, aku ingin berteriak, setidaknya alam tahu perasaanku, “aku ingin punya temannnn yang bisa setia menemanku, siapapun dia, aku ingin punya temaaaaan”. Hahh lega rasanya, berteriak seperti itu, semoga hanya telingaku saja yang mendengar ucapanku barusan, kalau tidak, aku akan terlihat seperti manusia yang benar-benar kesepian sekaligus menyedihkan, meskipun memang itu benar.

Keesokan harinya, sepulang dari kantor aku kembali mengunjungi taman ini, masih sepi seperti biasanya. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang berjalan menuju ke arahku. Wajahnya tampan sekali, kulitnya putih, mataku benar-benar terbius. Dia duduk di sebelahku, mengajakku bicara, dan berkenalan, namanya Romi. Awalnya aku takut berbicara dengan orang asing, tapi entah mengapa, berbicara dengannya membuatku merasa nyaman, apa jangan-jangan kemarin ketika aku berteriak dia mendengarnya? Ah sudahlah semoga ini jawaban dari keinginanku kemarin, lagipula dia tampan, dan aku suka.

Hari demi hari berlalu, kami sering mengobrol di taman. Kami selalu janjian di taman itu pada jam yang sama, meskipun selalu dia duluan yang sampai, maklumlah jalanan dan macet, seperti dua anak kembar yang kadang sulit dipisahkan. Aku rasa sudah saatnya kami menikmati suasana baru, aku ingin mengajaknya pergi ke bioskop. Awalnya dia tidak mengindahkan keinginanku, katanya dia tidak begitu suka dengan keadaan yang ramai. Tapi setelah aku gunakan jurus memelasku yang paling majur, akhirnya dia mau aku ajak pergi ke bioskop. Aku senang sekali berjalan kaki dengannya, menyusuri jalanan yang cukup ramai dengan klakson kendaraan. Tapi aku bahagia, bisa menggandeng tangannya yang begitu lembut, wanginya dia itu khas, aku tidak pernah mencium bau tubuh seperti itu sebelumnya, unik. Ditambah lagi sepanjang jalan, orang-orang tersenyum melihatku dengannya, seolah-olah ingin mengatakan, betapa romantisnya kami berdua, pastilah, bagaimana tidak, dia tampan, akupun cantik, iya kata mamaku aku cantik.

Aku tidak ingin menunggu lama-lama, mengingat umurku yang sebentar lagi menginjak kepala 3 dan aku bosan disebut “perawan tua” oleh tetangga-tetanggaku yang bawel itu, akhirnya aku memutuskan nanti sore aku akan mengajaknya untuk ke tahap yang lebih serius, menikah. Sesampainya aku di taman, seperti biasanya dia sudah duduk manis menunggu kedatanganku. Aku pun melancarkan tujuanku, aku mengajaknya berbicara serius, aku mengajaknya untuk menikah. Mendengar permintaanku, dia tersenyum lembut ke arahku, menatapku dalam, dia mengajakku pergi ke rumahnya. Sesampainya kami di depan sebuah rumah mungil tapi begitu indah, banyak pohon-pohon rindang menghiasi rumahnya, dia bilang itu rumahnya. Namun, dia tidak mengajakku masuk, katanya di rumahnya sepi, jadi lain kali saja. Aku sempat bingung, tapi tidak apa, yang penting aku sudah tau dimana dia tinggal.

Keesokan harinya, aku kembali pergi ke taman, tapi dia tidak ada, hampir satu jam aku tunggu kedatangannya, tapi tidak datang juga. Hari demi hari berlalu, sudah satu minggu, dia tidak datang, aku sedih, aku rindu, aku ingin bertemu dengannya. Baiklah, aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Sesampainya aku di rumah Romi, aku ketuk pintunya perlahan, tidak lama, keluarlah seorang ibu yang sudah cukup tua dan sedikit bungkuk, tersenyum ke arahku, dan bertanya apa maksud kedatanganku. Ingin bertemu Romi, ku jawab pertanyaan ibu itu kepadaku, dia menatapku dalam, tak ama dia tersenyum dan merangkul pundakku, dia menyuruhku untuk duduk dan menunggu, dia bilang mau membuatkanku minum. Benar kata Romi, rumahnya sepi, sepi sekali. Mataku berkelana, menyusuri dinding-dinding ruang tamunya, rumahnya gelap, lampunya redup, berjejer foto-foto anggota keluarga di dinding-dinding ruangan itu, ah... ada foto Romi, si pemuda tampan itu, kekasihku. Aku hampiri fotonya, karena aku sangat merindukannya, belum sampai aku memegang foto itu, ibu itu datang, akupun kembali duduk di sofa yang sudah cukup lapuk itu.

Cukup lama kami mengobrol, dia bertanya tentang siapa diriku, dimana rumahku, ah pokoknya banyak. Dia ternyata adalah ibunya Romi, pantas saja, wajah Romi tampan, ibunya cantik begini, tidak salah berarti aku memilih calon suamiku, setidaknya nanti wajah anakku akan rupawan seperti ayah dan ibunya. Langsung ke pokoknya, aku bertanya kepada ibunnya dimana keberadaan Romi. Wajahnya langsung berubah tatkala mendengar pertanyaan ku, dia menunduk tak lama air matanya pun keluar, dengan derasnya. Ya ampun, apa aku salah bicara ya, bagaimana ini. Mungkin ibu itu menangkap kegelisahanku, dia mengelus rambutku, dan berkata.....


“Sayangku, ibu sangat menyayangi Romi, dia adalah anak ibu satu-satunya, keluarga ibu satu-satunya yang menemani ibu setelah ayah dan kakaknya meninggal dunia karena kecelakaan. Dia anak yang baik, pemuda yang bertanggung jawab dan penuh kasih. Tapi sayangnya, dia sangat takut akan pernikahan, itu karena dulu, dia pernah melamar seorang gadis, dan gadis itupun menerimanya, sehari sebelum pernikahannya, gadis itu pergi dari rumahnya, dia pergi bersama laki-laki selingkuhannya dan pergi meninggalkan Romi. Semenjak itu, Romi, putus asa, dia sakit-sakitan, hidupnya seperti tidak bergairah. Dia sering pergi ke taman, di Jalan Kemangi Raya, yang tidak jauh dari rumah ibu, sesekali ibu mengikutinya karena khawatir dengan keadaannya yang begitu, dia suka duduk-duduk di bangku taman, depan danau itu. Hingga suatu saat, ibu tidak bisa mengikutinya karena kaki ibu sakit, Romi tidak kunjung pulang ke rumah. Sampai keesokan harinya......warga menemukan tubuh Romi mengambang di danau itu, dia meninggal dunia, tepat satu tahun yang lalu.”



-Cindy Kusumawardhani (2018)

Komentar

Postingan Populer