Ayah
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Aku tidak kunjung bisa tidur, entah karena aku minum kopi atau karena tidur siang. Entah kenapa, malam ini terasa begitu mencekam, hening dan gelap. Suasana seperti ini kadang kala membuat pikiranku melalang buana, menjelajahi memori akan peristiwa yang aku alami. Mulai dari pengalaman yang memalukan, membahagiakan, dan ah, yang benar saja, pengalaman mistis pun turut meramaikan pikiran ini, ya wajar sih, suasana seperti ini memang sangat mendukung untuk memikirkan hal semacam itu. Mau kuceritakan? Baiklah. Kisah tersebut terjadi 4 tahun lalu, tepatnya ketika aku masih menjadi mahasiswa baru. Aku dulu adalah mahasiswa di salah satu sekolah tinggi di Bandung. Sedari kecil, aku sebenarnya tinggal di Jakarta, aku terpaksa merantau, karena gagal di seleksi masuk perguruan tinggi pilihanku. Sedih rasanya, tapi hidup harus tetap dijalani toh? Setelah diterima di sekolah tinggi tersebut, aku pun segera mempersiapkan diri dan mental untuk menjadi anak rantau. Sebenarnya berat meninggalkan ayah sendirian di rumah. Iya, aku dan ayah hanya tinggal berdua di rumah kami, ibu sudah lama meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya.
Aku memang tipikal anak yang sering menunda-nunda pekerjaan, sampai-sampai, memilih tempat kos saja tepat di H-2 masuk kampus. Saat itu, aku pergi bersama dengan ayahku dari Jakarta menuju Bandung. Sesampainya di Bandung, aku dan ayah tidak terlalu banyak mensurvei tempat kos, kami memutuskan untuk mengambil tempat kos yang lokasinya tidak jauh dari kampusku. Setelah ku amati, kostan ini bukan khusus untuk mahasiswa, karena ada juga orang yang berumah tangga tinggal di sana. Aku kedapatan kamar kost di lantai 3, kamar ini adalah satu-satunya kamar yang tersisa, pikirku saat itu, oh mungkin karena memang waktu yang mepet masuk kuliah, jadi sudah penuh dengan mahasiswa. Lagipula, harga kamar ini berbeda dengan kamar-kamar yang lainnya, mungkin karena lokasinya yang berada di lantai 3 dan paling pojok. Kamar itu juga unik, ada bolongan besar diantara kamarku dan kamar sebelah, ukurannya sebesar tutup botol galon air mineral lah kira-kira. Huft, untung saja, penghuni kamar sebelah adalah 2 orang perempuan yang kelihatannya baik-baik, namanya Rini dan Desti. Aku dan mereka berkenalan dan yah untungnya kami cepat akrab. Sejak kepindahanku, aku dan tetangga sebelah kamarku sering kali mengobrol dekat bolongan itu, bahkan kami sering sekali membangunkan tidur satu sama lainnya. Di malam hari kadang mereka memilih untuk menutup lobang tersebut dengan lakban hitam, ya karena ada ayahku yang memang menginap di kamarku selama 7 hari, haha.
Belum genap 7 hari, ayahku memberitahuku untuk segera pulang ke Jakarta, karena pekerjaannya yang tidak dapat ditinggal lama-lama. Ayahku memutuskan untuk pulang pada dini hari, karena mengejar jadwal bus ke Jakarta. Karena mengurusi kepulangan ayah ke Jakarta, aku jadi telat bangun pagi, akhirnya pada hari itu aku tergesa-gesa dalam mempersiapkan diri pergi ke kampus. Seperti biasanya, sebelum berangkat kampus, aku kerap kali membangunkan Rini dan Desti, ku dorong lakban hitam di kamar sebelah, dan ku intip, ternyata mereka masih tertidur pulas, ku panggil-panggil mereka, namun tidak kunjung ada jawaban. Ah yasudahlah, aku memutuskan untuk pergi ke kampus tanpa menunggu mereka terbangun. Hari itu begitu melelahkan, aku bahkan harus tertahan di kampus sampai jam 7 malam karena tugas yang diberikan seniorku cukup banyak. Ketika sedang memijat-mijatkan kepala, tiba-tiba aku dikagetkan dengan getaran ponselku di atas meja, Desti mengabariku lewat pesan singkat, begini bunyinya..“Maya, kamu dimana? Kenapa belum pulang? Udah makan belum? Ayah kamu kok aku panggil nggak jawab-jawab ya, ini dari tadi duduk aja, aku intip berkali-kali ge, ngebelakangin tembok terus, aku gak berani nyamperin yah May, takut ganggu, udah makan belum tuh May? Coba telepon”
Deg... Ayah? Saat itu, aku begitu takut dan heran. Bagaimana ayah bisa
kembali ke kamar kosku? Ayah sudah pulang ke Jakarta jam 2 pagi tadi. Lagipula
kamar kosku sudah ku gembok. Saat itu aku memutuskan untuk segara menghubungi
ayah, berpura-pura memastikan apakah ia sudah sampai rumah atau belum, dan benar
saja, ayah sudah di Jakarta, bahkan ia baru pulang dari kantornya. Hemmm,
semenjak kejadian itu, aku pun memutuskan untuk pindah kost. Setelah ku
telusuri, ternyata kamar kost yang aku tinggali pernah menjadi tempat bunuh
diri seorang pria berusia 40 tahun, yang mati bunuh diri, penyebabnya apa, aku
tidak berani mencari tahu lebih jauh.
Begitulah kisahku saat masih menjadi mahasiswa baru. Menceritakan cerita
horor membuat aku lapar, sepertinya aku ingin memasak mie instan. Baiklah, aku
harus segera ke dapur. Ayah memang begitu mirip denganku, lihat saja, ia juga
ada di dapur, tapi sedang apa ayah? Kenapa hanya duduk saja di meja makan?
Apakah ia sudah selesai makan? Sebaiknya aku tanya saja
“Ayah, ayah sudah makan?”
Ayahku diam seribu bahasa, apa mungkin ia sedang banyak yang dipikirkan ya?
Apa tugas kantornya begitu banyak? Ya sudahlah, aku tidak mau mengganggunya.
Aku lanjut saja membuat mie instan.
Tringgg..
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, dan... apa? Ayah? Bagaimana mungkin
ayah meneleponku? Apa ayah sudah kembali ke kamarnya? Ataukah ayah ingin
memakan mie instan pula? Dering ponselku pun terhenti, dan ayah tiba-tiba
mengirinku pesan singkat..
“Maya, ayah sepertinya harus menginap di rumah Om Lukman,
karena masih banyak pekerjaan proyek yang harus ayah selesaikan, besok ayah
libur, kita bisa pergi ke restoran yang kamu tunjukkin waktu itu, kunci pintu
jangan lupa ya May, Ayah sayang Maya”
Deg.... Ayah lembur, lalu siapa yang ku lihat barusan? Apakah dia masih ada
di belakangku? Aku tidak berani membalikkan badan, tolong...
Komentar
Posting Komentar